Selamat Datang di Bimas Kristen Kanwil Kementerian Agama Banten

Selasa, 03 April 2012

APRIL BULAN IBU

"IA TIDAK PERNAH SEKALI PUN MENYERAH. IBUKU ADALAH PAHLAWANKU" 
(Kimberly Anne Brand)
Sumber: Chicken Soup For the Teenage Soul; By Jack Canfield Hlm. 39-43

Aku menendang di lantai, menendang-nendang keran dan menjerit sampai leherku terasa serak-semuanya karena ibu asuhku memintaku menyimpan mainanku.
          "Aku benci kamu," jeritku. Usiaku enam tahun waktu itu dan tak mengerti mengapa aku selalu merasa marah.
        Sejak usia 2 tahun aku selalu tingal di keluarga asuh. Ibu kandungku tak dapat membesarkanku dan kelima kakakku. karena kami tak mempunyai ayah atau orang lain yang dapat mengurus kami, kami dimasukkan ke rumah asuh. Aku merasa kesepian dan bingung. Aku tak tahu mengungkapkan bahwa hatiku sakit. Mengamuk adalah satu-satunya cara yang kuketahui untuk menunjukkan perasaanku.
         Karena aku banyak membuat masalah, akhirnya ibu asuhku yang terakhir mengirimku ke agen adopsi, sama seperti ibuku yang sebelumnya. Aku merasa aku adalah anak yang sulit dicintai di dunia.
        Lalu aku bertemu Kate McCann. Usiaku tujuh tahun saat itu dan aku sedang tinggal dengan keluarga asuhku yang ketiga waktu ia datang berkunjung. waktu ibu asuhku memberitahu bahwa Kate masih belum bersuami dan ingin mengangkat anak, aku tak menyangka dia akan memilihku. Aku tak membayangkan ada orang yang menginginkanku tinggal bersamanya terus menerus.
      Hari itu, Kate mengajakku ke kebun labu. Kami bersenang-senang, tapi aku tak menyangka aku bertemu dengannya lagi.
         Beberapa hari kemudian, seorang petugas sosial mengunjungi rumah memberitahu bahwa bahwa Kate ingin mengangkatku menjadi anaknya. Lalu dia bertanya apakah aku keberatan tinggal bersama satu orangtua, bukan dua.
         "Aku cuma ingin ada yang menyayangiku,"kataku.
        Kate berkunjung keesokan harinya. Ia menjelaskan bahwa pengurusan adopsi memerlukan waktu setahun, tapi aku dapat segera pindah ke rumahnya. Aku senang tapi juga takut. Aku dan Kate benar-benar asing. Aku bertanya-tanya apakah ia berubah pikiuran setelah mengenalku.
        "Kate dapat merasakan ketakutanku. "Aku tahu hatimu telah disakiti," katanya sambil memelukku. "Aku tahu kamu takut. Tapi aku berjanji, aku tak akan mengusirmu. Sekarang kamu adalah anakku."
         "Aku terkejut melihat air matanya berlinang. Tiba-tiba aku menyadari bahwa dia juga merasa kesepian seperti diriku!
          "Baiklah....Ma," kataku.
        "Minggu berikutnya aku bertemu dengan kakek, nenek, bibi, paman, dan sepupuku yang baru. Rasanya aneh, tapi -menyenangkan-bersama-sama orang asing yang memelukku seakan mereka sudah mencintaiku.
         Waktu aku pindah ke rumah mama, untuk pertama kalinya aku memiliki kamar sendiri. dindingnya dilapisi kertas dan seprainya bercorak sama, ada meja rias cantik dan lemari pakaian yang besar. Aku hanya memiliki beberapa potong pakaian yang kubawa di dalam kantung kertas. "Tak usah khawatir", katanya. 
"Mama akan membelikan barang baru yang bagus-bagus untukmu."
           Aku merasa aman saat tidur malam itu. Aku berdoa agar aku tak perlu meninggalkan tempat itu.
Mama baik sekali padaku. Ia mengajakku ke gereja. Ia membelikan binatang peliharaan dan memberikan pelajaran menunggang kuda dan bermain piano. Setiap hari ia mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tapi cinta tidak cukup untukmenyembuhkan raa sakit di hatiku. Aku terus menunggunya berubah pikiran. Kupikir, "kalau aku nakal sekali, ia pasti meninggalakanku, sama seperti yang lain."
          Jadi aku mencoba menyakitinya sebelum ia menyakitiku. Aku mempertengkarkan hal-hal kecil dan marah-marah kalau kemauanku tidak dituruti. Aku membanting pintu. KAlau Maam mencoba melarang, kupukul dia. Tapi, ia tidak pernah kehilangan rasa sabarnya. Ia selau memelukku dan berkata tetap mencintaiku. Kalau aku marah, ia menyuruhku melompat di atas trampolin.
         "Karena prestasi belajarku di sekolah buruk waktu aku pindah ke rumahnya, Mama sangat tegas mengenai PR-ku. Suatu hari waktu aku sedang menonton TV, ia masuk dan mematikannya. "Kamu boleh nonton setelah selesai mengerjakan PR," katanya. Aku marah dan mengambil bukuku dan melemparnya. " Aku benci kamu dan aku tak mau tingal di sini lagi!" aku berteriak.
       "Aku menunggunya menyuruhku mengepak pakaian. Waktu ia tidak menyuruhku demikian, aku bertanya, Kamu tidak akan mengembalikanku ke rumah yatim piatu?"
           " Aku tidak suka melihat kelakuanmu," katanya, "tapi aku tidak akan pernah mengembalikanmu ke sana. Kamu adalah anakku sekarang, dan antara ibu dan anak tidak pernah saling meninggalkan." Lalu mendadak aku sadar. Mama yang ini berbeda;ia tak akan menyingkirkanku. Ia sungguh-sungguh mencintaiku. Dan aku sungguh-sungguh menyadari, aku mencintainya juga. Aku menangis dan memelukknya.Pada tahun 1085, waktu Mama secara resmi mengangkatku sebagai anak, seluruh keluarga kami merayakannya di rumah makan. Menyengkan rasanya memiliki keluarga. Tapi aku masih takut. Mungkinkah seorang mama mencintaiku terus? Amarahku tidak langsung lenyap, tetapi setelah berbulan-bulan berlalu, aku makin jarang marah-marah.
           Hari ini usiaku 16 tahun. Indeks prestasi rata-rataku 3,4, aku memiliki kuda bernama Dagger's Point, empat kucing, satu anjing, enam burung dara, dan katak yang tinggal di kolam di belakang rumahku. Dan aku bercita-cita inginmenjadi dokter hewan.
          "Aku dan mama senang melakukan kegiatan bersama-sama, misalnya belanja dan menunggang kuda. Kami tersenyum kalau orang mengatakan kami mirip. Mereka tidak percaya bahwa ia buakan ibu kandungku.
          "Sekarang aku lebih bahagia dari pada yang pernah kubayangkan. Kalau aku sudah dewasa, aku ingin menikah dan punya anak, tapi kalau ityu tidak terjadi, aku akan mengangkat anak seperti Mama. Aku akan memilih anak yang kesepian dan ketakutan dan tak akan menyerah. Aku bahagia mama tidak meninggalkanku.